
Serangan udara besar-besaran yang dilancarkan Rusia kembali menghantam ibu kota Ukraina, Kyiv, pada Kamis (2/7/2026). Gempuran yang melibatkan rudal dan drone tersebut menyebabkan sedikitnya 13 orang meninggal dunia, sementara puluhan lainnya mengalami luka-luka.
Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, menyampaikan bahwa hingga saat ini jumlah korban tewas telah mencapai 13 orang. Selain itu, sedikitnya 86 warga dilaporkan mengalami cedera akibat serangan yang menghantam sejumlah kawasan permukiman.
Serangan tersebut mengakibatkan beberapa gedung apartemen mengalami kerusakan parah. Ledakan mulai terdengar sejak Rabu malam dan terus berlanjut hingga dini hari ketika rentetan rudal serta drone menghujani berbagai titik di ibu kota Ukraina.
Peristiwa itu terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky memperingatkan bahwa Rusia tengah menyiapkan serangan berskala besar berdasarkan informasi intelijen yang diterima pemerintah.
Di tengah situasi tersebut, pemerintah Ukraina kembali meminta dukungan negara-negara sekutunya, terutama dalam bentuk tambahan sistem pertahanan udara untuk menghadapi meningkatnya intensitas serangan Rusia.
Menteri Luar Negeri Ukraina Andriy Sybiga menegaskan bahwa pengiriman sistem pertahanan udara tidak boleh lagi ditunda karena Kyiv baru saja mengalami salah satu malam paling berat selama konflik berlangsung.
Menurut keterangan Angkatan Udara Ukraina, Rusia meluncurkan total 496 drone serta 74 rudal, termasuk rudal balistik yang dikenal lebih sulit untuk dicegat oleh sistem pertahanan udara.
Meski demikian, militer Ukraina mengklaim berhasil menghancurkan sebagian besar serangan tersebut, yakni 476 drone dan 48 rudal sebelum mencapai sasaran.
Akibat ancaman serangan yang terus berlangsung, banyak warga memilih berlindung di stasiun metro bawah tanah, ruang bawah tanah bangunan, maupun koridor yang dianggap lebih aman dari dampak ledakan.
Invasi Rusia ke Ukraina yang telah berlangsung lebih dari empat tahun masih terus memicu serangan rutin terhadap berbagai kota, termasuk Kyiv. Konflik tersebut hingga kini menjadi salah satu perang paling mematikan di kawasan Eropa sejak berakhirnya Perang Dunia II.
