
Jakarta – Mi instan, sosis, nugget, makanan ringan kemasan, hingga minuman manis merupakan beberapa contoh makanan ultra proses yang mudah ditemukan sehari-hari. Namun, konsumsi dalam jumlah tinggi kini mendapat perhatian karena sebuah penelitian menemukan adanya kaitan dengan peningkatan risiko kanker paru-paru.
Studi yang diterbitkan dalam jurnal Thorax tersebut meneliti hubungan antara konsumsi makanan ultra proses atau ultra-processed food (UPF) dengan risiko kanker paru-paru. Meski hasilnya belum membuktikan hubungan sebab-akibat, temuan ini menjadi alasan untuk lebih membatasi asupan makanan yang melalui banyak tahapan pengolahan.
Dikutip dari Medical Net, makanan ultra proses umumnya dibuat melalui proses industri yang panjang dan dapat mengandung berbagai bahan tambahan, termasuk pengawet. Produk seperti mi instan, sosis, nugget, makanan cepat saji, minuman ringan, roti kemasan, es krim, hingga kue dan camilan kemasan termasuk dalam kelompok ini.
Penelitian Melibatkan Lebih dari 100 Ribu Orang
Para peneliti menggunakan data dari Prostate, Lung, Colorectal and Ovarian (PLCO) Cancer Screening Trials di Amerika Serikat. Penelitian tersebut melibatkan sekitar 155.000 peserta berusia 55-74 tahun.
Sebanyak 101.732 peserta memberikan informasi mengenai pola makan mereka melalui kuesioner pada awal penelitian. Jenis makanan kemudian dikelompokkan berdasarkan tingkat pengolahannya, termasuk makanan yang masuk kategori UPF.
Peserta selanjutnya diamati selama kurang lebih 12 tahun. Dalam periode tersebut, tercatat 1.706 kasus baru kanker paru-paru. Dari jumlah tersebut, 1.473 merupakan kasus kanker paru-paru non-sel kecil (NSCLC), sedangkan 233 lainnya merupakan kanker paru-paru sel kecil (SCLC).
Risiko Lebih Tinggi pada Konsumsi UPF
Rata-rata peserta mengonsumsi sekitar tiga porsi makanan ultra proses setiap hari setelah disesuaikan dengan kebutuhan energi. Peneliti kemudian membandingkan kelompok dengan konsumsi UPF paling tinggi dan paling rendah.
Setelah memperhitungkan sejumlah faktor lain, termasuk kebiasaan merokok dan kualitas pola makan secara keseluruhan, kelompok dengan konsumsi UPF tertinggi tercatat memiliki kemungkinan 41% lebih besar mengalami diagnosis kanker paru-paru dibandingkan kelompok dengan konsumsi terendah.
Meski demikian, angka tersebut tidak berarti makanan ultra proses secara langsung menyebabkan kanker paru-paru. Penelitian ini bersifat observasional sehingga belum dapat memastikan hubungan sebab-akibat.
Kandungan Gizi Menjadi Perhatian
Salah satu hal yang menjadi perhatian peneliti adalah karakteristik makanan ultra proses yang umumnya memiliki kandungan gula, garam, dan lemak cukup tinggi, tetapi relatif rendah dalam sejumlah nutrisi penting.
Jika dikonsumsi terlalu sering, makanan jenis ini juga berpotensi menggantikan makanan yang lebih bergizi seperti buah, sayuran, dan biji-bijian utuh. Padahal, pola makan yang kaya makanan tersebut dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi dan mendukung kesehatan tubuh.
Pengolahan industri yang panjang juga dapat mengubah struktur asli bahan makanan serta memengaruhi bagaimana nutrisi tersedia dan diserap oleh tubuh.
Bukan Berarti Harus Dihindari Sepenuhnya
Para peneliti menilai peningkatan konsumsi makanan ultra proses secara global dalam beberapa dekade terakhir menjadi perhatian karena sebelumnya juga telah dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan.
Namun, diperlukan penelitian lebih lanjut dengan jumlah peserta dan populasi yang lebih beragam untuk memastikan temuan mengenai kanker paru-paru tersebut.
Karena itu, membatasi makanan ultra proses dan lebih sering memilih makanan utuh seperti sayuran, buah, biji-bijian, serta sumber protein bergizi dapat menjadi bagian dari pola makan yang lebih sehat. Temuan penelitian ini juga menjadi pengingat bahwa kualitas pola makan secara keseluruhan penting diperhatikan, bukan hanya mengandalkan satu jenis makanan tertentu.
