
Jakarta – Jagung manis dikenal sebagai salah satu sayuran favorit karena cita rasanya yang manis serta teksturnya yang renyah. Selain nikmat disantap dengan cara direbus atau dibakar, jagung juga sering dijadikan campuran berbagai hidangan.
Meski begitu, masih banyak orang yang enggan mengonsumsinya karena percaya pada berbagai anggapan keliru. Kandungan gula dan karbohidrat di dalam jagung kerap dianggap dapat memicu kenaikan berat badan maupun lonjakan gula darah.
Padahal, sebagian besar anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Jika dikonsumsi dalam jumlah yang wajar, jagung manis justru menyumbang berbagai nutrisi yang bermanfaat bagi tubuh.
Mengutip EatingWell, berikut sejumlah mitos mengenai jagung manis beserta fakta sebenarnya.
1. Jagung manis disebut tinggi lemak
Banyak yang mengira jagung mengandung lemak dalam jumlah besar. Faktanya, satu tongkol jagung hanya mengandung sekitar 1 gram lemak menurut data Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA).
Sebagian besar lemak tersebut terdiri dari lemak tak jenuh tunggal dan lemak tak jenuh ganda yang dikenal baik untuk kesehatan jantung. Manfaat ini akan lebih optimal jika jagung dikonsumsi tanpa tambahan mentega, keju, atau bahan tinggi lemak lainnya.
2. Jagung bikin berat badan cepat naik
Anggapan ini juga tidak sepenuhnya tepat. Yang berpotensi meningkatkan kalori justru berbagai topping seperti mentega, saus, keju, atau taburan manis.
Sementara itu, satu tongkol jagung polos hanya mengandung sekitar 122 kalori. Jagung juga menyediakan hampir 3 gram serat yang membantu rasa kenyang bertahan lebih lama.
Selain serat, jagung mengandung pati resisten, yaitu jenis karbohidrat yang dicerna lebih lambat sehingga dapat membantu mengontrol nafsu makan dan menjaga berat badan bila dipadukan dengan pola makan seimbang.
3. Kandungan gulanya terlalu tinggi
Dibandingkan sayuran lain, jagung memang memiliki kadar gula alami yang sedikit lebih tinggi. Namun jumlahnya masih tergolong rendah, yakni sekitar 5 gram gula alami dalam satu tongkol ukuran sedang.
Jumlah tersebut bahkan kurang dari sepertiga kandungan gula pada sebuah pisang. Serat di dalam jagung juga membantu memperlambat proses pencernaan sehingga tidak memicu lonjakan gula darah secara drastis.
4. Jagung tidak memberikan manfaat kesehatan
Faktanya, jagung merupakan sumber berbagai zat gizi penting. USDA menyebut jagung kaya lutein dan zeaxanthin, dua antioksidan yang berperan menjaga kesehatan mata.
Tak hanya itu, kandungan seratnya mendukung pertumbuhan bakteri baik di usus sehingga membantu sistem pencernaan bekerja lebih optimal. Jagung juga menyediakan vitamin B, zat besi, protein, dan kalium yang dibutuhkan tubuh.
5. Memasak jagung menghilangkan nutrisinya
Banyak orang menganggap proses memasak membuat nutrisi jagung hilang. Namun ulasan ilmiah yang dipublikasikan dalam Food Science and Human Wellness tahun 2018 menunjukkan hal sebaliknya.
Proses pemasakan justru dapat meningkatkan ketersediaan beberapa senyawa bermanfaat di dalam jagung. Kajian tersebut juga menyebut konsumsi jagung secara rutin berkaitan dengan penurunan risiko penyakit kronis, termasuk penyakit kardiovaskular dan diabetes tipe 2.
Secara keseluruhan, jagung manis tetap menjadi pilihan makanan bergizi yang aman dikonsumsi selama porsinya tidak berlebihan. Dengan kandungan vitamin, mineral, serat, dan antioksidan, jagung dapat menjadi bagian dari pola makan sehat sehari-hari.
