
Jakarta – Metode penurunan berat badan terus bermunculan di media sosial. Salah satu yang sempat ramai diperbincangkan adalah aturan 30/30/30, sebuah pola yang mengatur konsumsi protein dan aktivitas fisik pada pagi hari.
Metode ini banyak menarik perhatian karena diklaim dapat membantu proses pembakaran lemak. Namun, apakah aturan tersebut benar-benar memiliki keunggulan khusus dibandingkan prinsip diet pada umumnya?
Dikutip dari Eat This, Not That!, ahli gizi Tara Collingwood menjelaskan konsep di balik pola 30/30/30.
Apa Itu Diet 30/30/30?
Sederhananya, metode ini terdiri dari tiga aturan angka 30.
Seseorang dianjurkan mengonsumsi 30 gram protein dalam waktu 30 menit setelah bangun tidur, kemudian melakukan aktivitas fisik berintensitas rendah selama 30 menit.
“Aturan 30/30/30 adalah strategi penurunan berat badan viral yang menyarankan makan 30 gram protein dalam waktu 30 menit setelah bangun tidur, diikuti dengan 30 menit olahraga intensitas rendah,” jelas Collingwood.
Tujuan utama pola ini adalah menjadikan protein dan aktivitas fisik sebagai bagian dari rutinitas awal hari.
Mengapa Protein Jadi Bagian Penting?
Protein memiliki efek mengenyangkan yang cukup baik. Mengawali hari dengan makanan tinggi protein diharapkan dapat membantu mengendalikan rasa lapar sehingga seseorang tidak mudah makan berlebihan sepanjang hari.
Selain itu, aktivitas fisik pada pagi hari dapat membantu meningkatkan pengeluaran energi.
“Idenya adalah menstabilkan gula darah, menahan rasa lapar, dan meningkatkan metabolisme di awal hari untuk mendukung pembakaran lemak,” ujar Collingwood.
Sejumlah uji klinis juga menunjukkan bahwa konsumsi protein yang lebih tinggi dapat membantu menurunkan berat badan sekaligus memperbaiki komposisi tubuh. Dalam kondisi diet tertentu, asupan protein yang lebih tinggi dikaitkan dengan berkurangnya massa lemak dan terjaganya massa bebas lemak atau fat-free mass (FFM).
Apakah Benar-Benar Bisa Membakar Lemak?
Menurut Collingwood, tidak ada mekanisme khusus yang membuat angka 30/30/30 secara otomatis membakar lemak lebih banyak.
“Tidak ada yang ajaib dalam formula ini, tetapi prinsip-prinsip di baliknya masuk akal,” katanya.
Sarapan tinggi protein memang dapat membantu seseorang merasa kenyang lebih lama dan menjaga energi sepanjang pagi. Sementara itu, aktivitas fisik dapat berkontribusi terhadap pembakaran kalori, pemeliharaan otot, serta kesehatan metabolisme.
Namun, proses penurunan berat badan pada dasarnya tetap dipengaruhi oleh keseimbangan kalori secara keseluruhan.
Artinya, jumlah energi yang masuk melalui makanan dan minuman serta energi yang digunakan tubuh sepanjang hari tetap menjadi faktor penting. Kualitas makanan dan pola makan secara keseluruhan juga tidak bisa diabaikan hanya karena seseorang mengikuti aturan 30/30/30.
Tidak Perlu Mengikuti Angkanya Secara Kaku
Collingwood menilai beberapa prinsip dalam metode tersebut sebenarnya merupakan kebiasaan yang baik. Mengutamakan protein dan menyempatkan diri bergerak di pagi hari dapat mendukung pola hidup yang lebih aktif.
“Keduanya merupakan kebiasaan sehat yang dapat mendukung manajemen berat badan dan tingkat energi. Namun, jangan berencana untuk menurunkan berat badan terlalu banyak dengan metode ini. Ini bukan ‘trik’ atau solusi cepat,” jelasnya.
Karena itu, metode 30/30/30 sebaiknya tidak dianggap sebagai jalan pintas untuk mendapatkan hasil penurunan berat badan dalam waktu singkat.
Konsistensi Lebih Penting
Bagi Collingwood, keberlanjutan kebiasaan justru lebih penting dibandingkan mengikuti aturan dengan sangat ketat.
Jika seseorang merasa nyaman sarapan dengan protein dan melakukan olahraga ringan setelah bangun, rutinitas tersebut dapat diteruskan. Namun, tidak ada keharusan untuk selalu memenuhi angka 30 gram, 30 menit, dan 30 menit secara persis agar pola hidup sehat memberikan manfaat.
“Jika aturan ini membantu seseorang membangun kebiasaan yang berkelanjutan dan seimbang, maka bagus. Namun tidak perlu mengikutinya secara persis untuk melihat hasilnya,” pungkas Collingwood.
Jadi, aturan 30/30/30 dapat menjadi salah satu cara untuk membangun rutinitas pagi yang lebih sehat. Meski demikian, keberhasilan menurunkan berat badan tetap membutuhkan pola makan bergizi seimbang, aktivitas fisik yang konsisten, serta pengaturan kalori secara keseluruhan.
